BERSEDIH, MEMANG BOLEH?
Aku tahu, kehidupan di dunia ini tidaklah mudah dan tentu saja tak selalu indah. Kesedihan dan kebahagiaan selalu datang silih berganti. Tak pasti dan semu. Bayangkan, ketika kebahagiaan datang, hati, bibir dan bahasa tubuh lainnya akan terlihat senang. Sebaliknya ketika kesedihan datang, hati ini rasanya sesak dan 'sempit', kepala 'bergemuruh' tiada henti. Efeknya biasanya badan terasa lelah walaupun tidak beraktifitas berat dan super malas untuk melakukan apapun.
Kesedihan itu adalah emosi yang dipicu oleh suatu peristiwa yang menyakitkan atau mengecewakan diri kita. Terkadang aku berfikir bahwa, kesedihan atau rasa sakit ini tidak selamanya tidak berharga. Bahkan kesedihan ini pada umumnya akan dibenci. Siapa sih yang ingin bersedih?? Coba kita renungkan kembali. Mungkin saja kesedihan itu justru mendatangkan kebaikan. Bisa jadi, Tuhan mendatangkan kesedihan supaya kita kembali, menangis dan meminta pertolongan Nya. Untaian tasbih dan istighfar yang tulus akan kembali terucap. Setelah sekian lama kita melupakannya.
Jadi, bolehkah bersedih?? Dalam Islam, kesedihan tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasulullah. Bahkan banyak ayat-ayat Al-Quran yang melarang kita bersedih. Berikut beberapa ayat Al-Quran yang melarang kesedihan:
“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. AT Taubah : 40)
“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu” (QS. Al Hadid : 23)
Cukup banyak ayat-ayat yang melarang untuk bersedih. Namun, orang yang bersedih tidaklah dikenakan dosa jika tidak sampai melakukan hal-hal yang dilarang oleh syari'at, misalnya menjadi malas dan lalai terhadap perintah Allah (sholat), melukai diri atau bahkan sampai bunuh diri. Naudzubillah tsumma naudzubillahi min dzalik, kami berlindung kepada Allah, sungguh berlindung kepada Nya dari perihal yang buruk. Menurut sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
Ada pepatah, jika kita tidak pernah merasakan kesedihan, kita tidak akan merasakan nikmatnya kebahagiaan. Jika kita tidak pernah merasakan kekecewaan, kita tidak akan pernah bersyukur. Tidaklah Allah menciptakan kebahagiaan kecuali ada kesedihan. Ketika kesedihan menyapa, hadapilah walau terasa berat dan menangislah. Menangis bukanlah hal yang tidak boleh dilakukan, menangis adalah fitrah manusia. Bukankah Allah subhanahu wa ta'ala telah memberikan nikmat berupa kemampuan untuk merasakan dan mengungkapkannya.
وَاَنَّهٗ هُوَ اَضۡحَكَ وَاَبۡكٰىۙ
"Dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis". (QS. An Najm :43)
Ketika kesedihan itu sudah terasa 'berat' dan kita merasa sudah lelah, berwudhu lalu sholatlah, perbanyak istighfar, pergilah ke taman-taman surga, dan perbanyak baca Al-Quran karena Al-Quran merupakan sumber ketenangan hati. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ
أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram". (QS. Ar Ra'du : 28)
Ya Allah...
Ketika semua cara tak mampu menyelesaikan, setiap jalan yang ditempuh menyempit, dan merasa harapan itu telah terputus. Menyerulah : "Ya Allah"
Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan himpitan persoalan hidup yang tiada henti dan jiwa yang tertekan oleh beban kehidupan yang terlalu berat. Menyerulah : "Ya Allah"
Setiap ucapan yang baik, doa yang tulus, rintihan yang jujur, air mata yang menetes dengan penuh keikhlasan dan semua keluhan yang menyesakkan hati, hanya pantas ditujukan kepada Nya.
Dan wajah zaman berlumuran debu hitam
Kusebut nama Mu dengan lantang di saat fajar menjelang
