Senin, 20 April 2015

Cantiknya di 2958 mdpl

Pengalaman ku ini adalah pengalaman pertama untuk jatuh cinta. Yaa jatuh cinta dengan mendaki gunung. Gunung pertama yang ku daki adalah gunung Gede dengan ketinggian 2958 mdpl. Gunung Gede ini masih berada di ruang lingkup Taman Nasional Gede Pangrango dan berada di tiga wilayah kabupaten yaitu Bogor, Cianjur dan Sukabumi. 
Pendakian ini dilakukan bertepatan dengan ulang tahun Profesor di jurusan Bioteknologi Tanah pada tanggal 27 September 2014. Salah satu dosen favoritku, nama beliau adalah Prof Dr Ir Dwi Andreas Santosa, MS. Beliau ketje (baca=kece) sekali. :)
Awalnya aku ragu untuk mendaki, aku selalu bertanya bagaimana jalur tracknya karena ini pertamakalinya akan mendaki. Selain itu fisik, aku meragukan kekuatan fisikku. Tapi berkat tips dan saran dari senior, bang Abdul, akhirnya aku bisa menaklukkan gunung Gede.
Satu jam pertama mendaki, nafasku terengah-engah, cepet capek, sempat terpikir kalau lebih baik aku tidak mendaki dan pulang, tapi hal itu ditepis dengan cerita bahwa pemandangan di puncak akan mengalahkan rasa capek. Akhirnya aku putuskan untuk mendaki.

Foto dibawah ini adalah foto sebelum benar-benar mendaki

Tak disangka-sangka ternyata aku bisa mencapai post pertama. Dan hebatnya lagi aku dan temen-temen cewek lainnya adalah cewek-cewek pertama yang sampai di post ini. Alhamdulillah...

Bersama merekalah aku melangkahkan kaki sampai puncak. Saling membantu, saling menyemangati,dan saling berbagi. Disinilah awal aku merasakan jatuh cinta dengan pendakian :P
Rute pendakian yang aku lakukan adalah melalui Gunung Putri. Untuk mencapai alun-alun Surya Kencana, aku harus melewati 5 pos (kalau tidak salah). Sampai pada pos pertama yaitu pos Tanah Merah pada ketinggian 1.850 mdpl dan membutuhkan waktu kurang lebih 1-1.5 jam. Jalur pendakian semakin menanjak dan melintasi akar-akar pepohonan, aku dan teman-teman mulai berhati-hati dan waspada. Aku mulai mengatur nafas dan langkahku, setiap 5 kali melangkah aku harus berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Selama 1.5-2 jam aku dan teman-teman terus berjuang untuk sampai di pos kedua yaitu Pos Legok Lenca di ketinggian 2.150 mdpl. Pos berikutnya adalah Buntut Lutung yang berada pada ketinggian 2.300 mdpl. Tempat ini lebih luas dibandingkan dengan pos-pos sebelumnya, tapi saat itu aku dan teman-teman tetap melanjutkan perjalanan karena di pos ini ramai sekali dan tidak ada cukup tempat untuk kami beristirahat. Pos terakhir adalah  Pos Lawang Seketeng dengan ketinggian kira-kira 2.500 mdpl. Setelah melewati pos terakhir, semangatku bertambah karena ingin sekali melihat bunga edelweiss, bunga abadi. Wah ketika sampai di Surya Kencana aku dan teman-teman langsung mengabadikan moment ini, foto-foto dulu J



Setelah puas dengan edelweisnya, aku dan teman-teman melanjutkan perjalanan untuk menuju ke Km-0, pada daerah itulah kami akan mendirikan tenda, kami sampai di Km-0 sekitar pukul 15.30 wib. Saat menuju ke Km-0, kami sudah merasa kelelahan dan hawa dingin serta kabut tebal mengiringi langkah kami.




Dan kami tak akan pernah melupakan siapa pencipta keindahan ini, sujud syukur pun kami lakukan.

Malampun tiba, kami bersiap-siap untuk makan malam dan beristirahat. Besok kami harus berangkat pagi-pagi.
Kami bersiap-siap sebelum sang Matahari benar-benar memancarkan kehangatannya.



Dan saatnya melanjutkan perjalanan, menuju puncak.
Membutuhkan waktu 3-4 jam untuk menuju puncak. Jalan yang kami lalui cukup terjal dan sempit. Pohon-pohon pun mulai kerdil, matahari langsung menyinari tubuh kami, udara dingin terganti dengan kehangatan sang mentari J
Dan akhirnya kamipun sampai. Indahnya ketika kami bisa mencapai puncak bersama J

Walau lelah, Kebahagiaan terpancar dari setiap wajah kami. Terimakasih ya Allah karena telah memberikan kami kesempatan untuk melihat salah satu keindahan ciptaanMu dan telah menjaga kami hingga mencapai puncak di 2.958 mdpl. Terimakasih kuucapkan pada Bpk Prof Andreas telah berbagi pengalaman mengagumkan bersama Bapak. Terimakasih juga pada teman-temanku, pengalaman ini adalah salah satu pengalaman terindahku bersama kalian. Semoga kita bertemu di puncak keindahan selanjutnya J




Bogor, 19 April 2015


Kamis, 16 April 2015

Situbondo, Kota yang Selalu Kurindukan

Situbondo, kota kecil yang damai bahkan dapat dikatakan kota yang sepi tidak banyak yang berubah dari semenjak aku kecil hingga saat ini (tahun 2015). Situbondo adalah kota kelahiranku, jelas sekali jika kota kecil ini akan selalu kurindukan. Semenjak lahir sampai SMA, aku tinggal di kota ini, dididik dan dibesarkan. Jadi banyak kenangan di kotaku ini.
Dirumah kecil dan sederhana ini banyak menyimpan sejuta (bahkan lebih dari itu) kenangan-kenangan yang tak akan pernah kulupakan. Kebahagiaan,kesedihan, canda dan tawa akan terus terukir dalam hati yang terdalam. Kenangan-kenangan itu yang telah membuat ku menjadi seperti yang sekarang ini. Sayangnya aku tidak mempunyai foto rumah sederhanaku ketika aku kecil. Lain waktu akan kutampilkan rumahku, in syaAllah :)
Selain karena banyak kenangan, Situbondo juga mempunyai tempat-tempat yang bagus. Ada beberapa foto yang diambil oleh kakakku ketika pulang kampung. Aku ingin menampilkan foto asli yang diambil sendiri, tidak dari google.

Kedua Foto ini adalah Pelabuhan Panarukan. Pelabuhan ini adalah dermaga sisa penjajahan Belanda yang didirikan pada tahun 1980, namanya Maactschappij Panaroekan. Dulunya pelabuhan ini digunakan sebagai berlabuhnya kapal-kapal besar, seiring dengan mendangkalnya pantai akhirnya hanya digunakan untuk kapal-kapal kecil.


Pelabuhan lain yang ada di Situbondo adalah Pelabuhan Kalbut. Pelabuhan ini merupakan tempat bersandarnya kapal-kapal kecil yang melayani rute menuju pulau madura. 


Foto yang ini adalah foto salah satu pantai terkenal bagi arek-arek Situbondo, Pantai Pathek. Pantai Pathek ini banyak dikunjungi orang, terutama para remaja. Pemandangan ketika menjelang sunset indah sekali, tapi sayangnya pantai ini kurang terawat, banyak sampah :( . Dulu aku sering ke pantai ini karena ada kapal besar yang selalu terlihat ditengah laut, tapi sekarang sudah tidak ada lagi.

Selain pantai ada juga beberapa peninggalan Belanda. Di Situbondo ada pabrik gula peninggalan Belanda yang sampai saat ini masih berfungsi, keren :)
Pabrik Gula Wringin Anom ini didirikan pada tahun 1881 oleh Factory yang berkedudukan di Belanda. Pada tahun 1958 semua perusahaan yang didirikan Belanda diambil alih oleh pemerintah Indonesia dan dinasionalisasikan.

Foto dibawah ini adalah foto old railway PG Wringin Anom - Kendit


Foto yang satu ini menyimpan sejarah. Ketika kecil, aku sering jalan-jalan pagi bersama kakak dan saudara-saudaraku. Tempat yang paling sering aku singgahi adalah jalan tembus (begitu masyarakat Situbondo menyebutnya), di Desa Sumberkolak. Berangkat setelah sholat subuh dan akan pulang ketika matahari sudah meninggi. Ketika sudah ada di atas bukit aku selalu memandangi gunung Putri. Dikatakan gunung Putri karena gunung itu membentuk struktur wajah yang terlihat dari samping, terlihat ada lekukan mata, hidung dan mulut :)


Foto-foto berikut adalah foto beberapa desa yang diambil oleh Kakak. 

Kedua foto diatas diambil di desa Lugundang, Situbondo.

Foto ini diambil di desa Dhuwet, Situbondo.

Foto-foto di atas adalah sedikit potret keindahan kota Situbondo.
Kota kecil yang selalu kurindukan
SITUBONDO


Bogor, 16 April 2015

About Me

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Aku tetap seperti yang dulu, selalu kesulitan bagaimana aku menuliskan sesuatu pada halaman kosong ‘please tell about you’. Pertanyaan yang mudah tapi sangat sulit bagiku untuk menjawabnya. Saat ini, aku akan mencoba mengayunkan jari-jariku menekan tombol-tombol laptopku menuliskan kata demi kata hingga memenuhi satu halaman blogku.
Aku adalah wanita biasa saja, hidup di lingkungan sederhana namun aku tumbuh pada satu keluarga yang sangat luar biasa. Aku terlahir dari seorang ibu ketika beliau berumur 22 tahun dan ayahku berumur 26 tahun. Aku terlahir ke dunia ini pada hari Senin, tanggal 30 November tahun 1987 silam. Aku dilahirkan di sebuah kota kecil, Situbondo namanya. Mungkin banyak yang tidak tahu dimana Situbondo, tapi kata Panarukan pasti tidaklah asing. Panarukan dulu terkenal sebagai kota pelabuhan yang bersinar hingga Amsterdam. Nah, di kota Situbondo lah Panarukan itu terletak.
Aku hanya wanita biasa yang memiliki nama empat suku kata, Herlina Puji Cahya Lestari. Sebuah nama yang cukup panjang untuk seorang wanita biasa sepertiku. Teman-temanku dulu pernah berkata bahwa itu nama se RT (sekampung). Yah, memang umumnya teman-temanku hanya memiliki dua suku kata sampai tiga suku kata.
Masa kecilku sangat-sangat indah, walaupun hidup di kota tetapi suasananya masih seperti di desa. Bermain engklek, gobak sodor, bola bekel, dakon, monopoli, halma, filateli, menangkap capung, mandi di sungai, bermain di sawah, membuat mainan dari tanah lempung, dan bermain hal-hal yang mengasyikkan lainnya bersama teman-teman sekampung. Tidak seperti anak-anak jaman sekarang yang mainannya gadget. Sungguh sangat bersyukur bisa merasakan itu semua, benar-benar kebahagiaan untuk anak kecil, bermain.
Aku anak kedua dari tiga bersaudara, aku punya kakak yang hebat. Kakak yang melengkapi hari-hari bermainku, dan semakin sempurna dengan lahirnya adikku setelah tujuh tahun kemudian. Adikku menjadi pelengkap keluarga kecilku yang sederhana.
Aku mengenyam pendidikan selama 14 tahun di tanah kelahiranku, sejak Taman Kanak-Kanak hingga SMU. Ajaibnya semua sekolahku tidak jauh dari rumah bisa ditempuh 15 sampai 20 menit dengan berjalan kaki. Sungguh menyenangkan menjalani semua tahapan itu, TK hingga SMU. Semuanya mempunyai cerita yang berkesan, baik itu sedih dan senang. Cerita itu terangkum menjadi memori yang sangat indah.
Hingga tibalah waktunya satu persatu dari kami harus hidup terpisah dengan keluarga kecilku. Awalnya, kakakku yang harus pergi dulu ke ibukota, Jakarta, untuk meraih mimpinya tahun 2001. Saat itu sedih rasanya harus berpisah dengan jarak yang cukup jauh, sangat jauh bahkan. Orang desa sepertiku ketika mendengar kota Jakarta, woww rasanya. Kakakku jarang pulang, jadi kakakku hanya menelpon paling tidak seminggu sekali. Wah, ketika kakakku menelpon seluruh keluarga tersenyum gembira dan bangga. Yah, itulah yang aku tangkap dari raut wajah keluarga di rumah. Apalagi ketika tiba waktu hari wisuda kakakku, tak hentinya Bapak melihat pakaian yang akan dikenakan nanti, Ibu menjahitkan baju (semi kebaya), aku dan adikku pun dibelikannya baju bagus. Senangnya bisa melihat masku dan kota Jakarta, maklumlah pada hari itu untuk pertama kalinya bagi keluarga kecil kami menginjakkan kaki di Jakarta dan Universitas terkece di Indonesia, Universitas Indonesia.
Tahun 2006, giliranku untuk hidup terpisah dengan Ibu-Bapak. Sedih dan senang berbaur jadi satu. Sedih karena harus berpisah, senang karena akhirnya aku bisa kuliah, seperti kakakku. Walaupun tidak jauh tetap bangga bisa kuliah, menjadi mahasiswa, memakai baju bebas, bukan seragam lagi. Senang bisa kuliah di Universitas Jember, bertemu dengan teman-teman hebat, berbagi suka duka selama kuliah. Pada tahun 2013, senang tiada terhingga ketika aku bisa melanjutkan studiku ke jenjang lebih tinggi. Aku melanjutkan studiku di Institut Pertanian Bogor, saat ini masih menempuh tahun kedua. Si bungsu, Adikku juga menempuh pendidikannya di Politeknik Negeri Jember pada tahun yang sama.
Kedua orangtuaku hanyalah orang biasa, mereka sangat sederhana. Tapi semangat dan kerja keras mereka lebih dari kata sederhana. Untuk mencapai semua ini mereka sangat-sangat bekerja keras, tidak hanya dalam mencari nafkah tetapi juga doa-doa yang terus mereka panjatkan untuk kami bertiga. Aku mengucapkan terima kasih tiada batas untuk kedua orangtuaku atas jerih payah dan tanpa kenal lelah membimbingku hingga saat ini. Semoga kami bertiga, bisa membahagiakan ibu-bapak di dunia dan akhirat nanti. Aamiin…
Demikian sekelumit tentangku dan keluarga kecilku ^_^

Bogor, 8 Januari 2015

Bersedih, Memang Boleh?

 BERSEDIH, MEMANG BOLEH?  Aku tahu, kehidupan di dunia ini tidaklah mudah dan tentu saja tak selalu indah. Kesedihan dan kebahagiaan selalu ...