SEPATU
KARET
Kisah ini tidak seperti kisah Cinderella dengan sepatu kacanya. Tetapi ini tentang sepatu karet. Sepatu karet ya... sepatu karet. Mendengar sepatu karet yang terbersit dalam pikiran adalah kesederhanaan. Ya memang modelnya simple dan harga sepatu ini sangat terjangkau sekali dan bisa didapat di pedagang sepatu emperan, tak perlu ke Toko.
Aku dan sahabatku, Winda, menjadi dekat karena sepatu karet ini. Ya.. sama-sama memakai sepatu karet. Sepatu karet ini menjadi salah satu saksi bisu perjalanan dan perjuangan kami, hingga akhir hayat sepatu. Ya...sepatu karet itu telah usang dan kini entah dimana keberadaannya.
Sepatu karet ini bagi kami sangat 'mahal' karena sepatu karet ini selalu menemani kami selama berjuang mengejar cita dan impian kami. Bentuknya sudah tak keruan mengikuti gerak telapak kaki mengarungi perjalanan kami. Siluetnya pun sudah tak menampakkan bentuk sepatu yang baik. Sepatu kami bertahan karena fungsinya, melindungi telapak kaki kami. Panas dan hujan, suka dan duka dilalui bersama, tsahhh…*lebay mode on.
Dan Inilah sepenggal kisah tentang aku, sahabatku dan sepatu karet. Sahabatku itu bernama Winda. Dia adalah teman semasa kuliah di pascasarjana IPB. Ya orangnya sangat sederhana sekali tapi jangan tanya tentang impiannya. Impiannya tidak sederhana, impiannya high class menurutku. Ditengah mengejar impian, dia juga harus membantu menafkahi sang adik dan keluarganya.
Semasa kuliah, 'jam terbangnya' pun mengalahkan seorang dosen. Selain harus kuliah, dia juga harus kerja, mengajar di salah satu bimbingan belajar di Bintaro. Pagi kuliah, sore hingga malam hari mengajar, dan tiba di kos pun sudah larut malam. Hal ini terus dilakukannya kuranglebih hingga akhir semester (2 tahun)pun masih mengajar (sebatas pengetahuanku saat itu).
Saat ini, sedikit demi sedikit jerih payahnya 'terbayar'. Alhamdulillah si Adik sudah mencapai cita-citanya yaitu menjadi tentara. Sedangkan, Winda sekarang sudah ada di Negara lain, Jerman, untuk mengejar impiannya, S3. Suatu saat nanti dia ingin menjadi dosen, katanya. Insyaallah, semoga Allah mengabulkan doamu, Wind.
Aku...bagaimana denganku sekarang?
Sekarang aku sudah menjadi seorang Ibu, Ibu dari dua orang anak perempuan. Kesibukanku? Mengurus surgaku yaitu suami dan anak-anakku. Insyaallah sampai ajal menjemputku.
Aku dan sahabatku, Winda, menjadi dekat karena sepatu karet ini. Ya.. sama-sama memakai sepatu karet. Sepatu karet ini menjadi salah satu saksi bisu perjalanan dan perjuangan kami, hingga akhir hayat sepatu. Ya...sepatu karet itu telah usang dan kini entah dimana keberadaannya.
Sepatu karet ini bagi kami sangat 'mahal' karena sepatu karet ini selalu menemani kami selama berjuang mengejar cita dan impian kami. Bentuknya sudah tak keruan mengikuti gerak telapak kaki mengarungi perjalanan kami. Siluetnya pun sudah tak menampakkan bentuk sepatu yang baik. Sepatu kami bertahan karena fungsinya, melindungi telapak kaki kami. Panas dan hujan, suka dan duka dilalui bersama, tsahhh…*lebay mode on.
Dan Inilah sepenggal kisah tentang aku, sahabatku dan sepatu karet. Sahabatku itu bernama Winda. Dia adalah teman semasa kuliah di pascasarjana IPB. Ya orangnya sangat sederhana sekali tapi jangan tanya tentang impiannya. Impiannya tidak sederhana, impiannya high class menurutku. Ditengah mengejar impian, dia juga harus membantu menafkahi sang adik dan keluarganya.
Semasa kuliah, 'jam terbangnya' pun mengalahkan seorang dosen. Selain harus kuliah, dia juga harus kerja, mengajar di salah satu bimbingan belajar di Bintaro. Pagi kuliah, sore hingga malam hari mengajar, dan tiba di kos pun sudah larut malam. Hal ini terus dilakukannya kuranglebih hingga akhir semester (2 tahun)pun masih mengajar (sebatas pengetahuanku saat itu).
Saat ini, sedikit demi sedikit jerih payahnya 'terbayar'. Alhamdulillah si Adik sudah mencapai cita-citanya yaitu menjadi tentara. Sedangkan, Winda sekarang sudah ada di Negara lain, Jerman, untuk mengejar impiannya, S3. Suatu saat nanti dia ingin menjadi dosen, katanya. Insyaallah, semoga Allah mengabulkan doamu, Wind.
Aku...bagaimana denganku sekarang?
Sekarang aku sudah menjadi seorang Ibu, Ibu dari dua orang anak perempuan. Kesibukanku? Mengurus surgaku yaitu suami dan anak-anakku. Insyaallah sampai ajal menjemputku.
Hai kawan, masih ingatkah
dengan sepatu karet itu? Aku tau kamupun pasti tersenyum ketika mendengarnya.
Sepatu kami sama, persis, nge-plek padahal gak janjian. Tapi ada perbedaan
diantara sepatu kami. Sepatuku robek melintang di bagian bawahnya nyaris
terbelah menjadi dua bagian. Well, dengan ide brilliant saat itu akhirnya aku
lakban hitam bagian bawahnya dan it work, Alhamdulillah bisa bertahan lebih
lama. Tapi masalah tak berhenti disitu saja. Bogor adalah kota hujan, kebayang
kan bagaimana nasibku. Wuaaaa….*mewek. Butuh sedikit perjuangan ketika berjalan
disaat hujan. Air selalu merembes masuk kedalam sepatu jadi setiap berjalan
akan berbunyi ‘ceprot…ceprot…’. Jadi aku harus ekstra hati-hati jika tidak
orang-orang akan mengira aku lagi kentut. Haha….
Berbeda dengan sepatuku,
sepatu winda sobek bagian tumit keatas, jadi tak ada penahan bagian belakang.
Jadi ketika berjalan harus pelan dalam melangkah, jika tidak maka sepatu
terlebih dahulu yang akan melangkah. Haha…jika teringat masa itu pasti
senyum-senyum sendiri. Betul gak, wind?
Tak terpikirkan bagi kami
untuk membeli sepatu baru lagi. Selain gak punya uang untuk beli (masih ada
yang lebih penting untuk dibeli saat itu) dan banyak tugas yang harus
diselesaikan sesuai deadline itulah yang mengalihkan perhatian kami.
Tak terasa itu sudah 5 tahun
yang lalu (kurang lebih). Kami bertemu di IPB, sama-sama mahasiswa baru
pascasarjana saat itu.
Kini kami sudah sama-sama
menikah dan ada jarak diantara kita. Aku ikut suami, dan dia kini ada di Jerman
untuk melanjutkan studinya. Masyaallah…
Banyak sekali
kenangan-kenangan bersamamu, wind. Dan kamu sudah menempati porsi besar di hati
dan sudah seperti adik bagiku.
Bagaimana tidak? Dirimu selalu
ada buatku ketika aku jatuh dan dalam kesulitan. Malam terkelam dan ketika aku
sedang hamil pun kamu selalu membantu ku walau kamu pun sedang sibuk. Semoga
Allah selalu menjagamu dimanapun kamu berada ya. Aamiin…
Ahh, setiap teringat kejadian itu, aku tak bisa berkata-kata, wind. Alhamdulillah ‘ala kulli hal, segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.
Disaat pergi jauh dari
keluarga terutama orang tua kita, teman-temanlah yang menjadi keluarga ku saat
itu. Dan seperti keluarga kedua buatku. Insyaallah aku tidak akan pernah
melupakan kalian. Terutama untukmu, Winda Ika Susanti. *Big hug for you
Klaten
Pagi yang Dingin
Pagi yang Dingin
Senin, 21 Mei 2018
