Senin, 03 Juni 2024

Bersedih, Memang Boleh?

 BERSEDIH, MEMANG BOLEH? 


Aku tahu, kehidupan di dunia ini tidaklah mudah dan tentu saja tak selalu indah. Kesedihan dan kebahagiaan selalu datang silih berganti. Tak pasti dan semu. Bayangkan, ketika kebahagiaan datang, hati, bibir dan bahasa tubuh lainnya akan terlihat senang. Sebaliknya ketika kesedihan datang, hati ini rasanya sesak dan 'sempit', kepala 'bergemuruh' tiada henti. Efeknya biasanya badan terasa lelah walaupun tidak beraktifitas berat dan super malas untuk melakukan apapun.

Kesedihan itu adalah emosi yang dipicu oleh suatu peristiwa yang menyakitkan atau mengecewakan diri kita. Terkadang aku berfikir bahwa, kesedihan atau rasa sakit ini tidak selamanya tidak berharga. Bahkan kesedihan ini pada umumnya akan dibenci. Siapa sih yang ingin bersedih?? Coba kita renungkan kembali. Mungkin saja kesedihan itu justru mendatangkan kebaikan. Bisa jadi, Tuhan mendatangkan kesedihan supaya kita kembali, menangis dan meminta pertolongan Nya. Untaian tasbih dan istighfar yang tulus akan kembali terucap. Setelah sekian lama kita melupakannya.

Jadi, bolehkah bersedih?? Dalam Islam, kesedihan tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasulullah. Bahkan banyak ayat-ayat Al-Quran yang melarang kita bersedih. Berikut beberapa ayat Al-Quran yang melarang kesedihan:

 وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. Ali Imron : 139)

لَا تَحْزَنْ إنَّ اللَّهَ مَعَنَا

Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. AT Taubah : 40)

لِكَيْ لَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu” (QS. Al Hadid : 23)

Cukup banyak ayat-ayat yang melarang untuk bersedih. Namun, orang yang bersedih tidaklah dikenakan dosa jika tidak sampai melakukan hal-hal yang dilarang oleh syari'at, misalnya menjadi malas dan lalai terhadap perintah Allah (sholat), melukai diri atau bahkan sampai bunuh diri. Naudzubillah tsumma naudzubillahi min dzalik, kami berlindung kepada Allah, sungguh berlindung kepada Nya dari perihal yang buruk. Menurut sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

إنَّ اللَّهَ لَا يُؤَاخِذُ عَلَى دَمْعِ الْعَيْنِ وَلَا عَلَى حُزْنِ الْقَلْبِ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُ عَلَى هَذَا أَوْ يَرْحَمُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ إلَى لِسَانِهِ

Sungguh Allah tidaklah menghukum seseorang karena tetesan air mata dan kesedihan hati. Akan tetapi, Allah hanyalah menyiksa atau mengasihi hamba karena sebab (sabar atau keluhan) lisan ini (sambil beliau berisyarat dengan lisannya)”.

Ada pepatah, jika kita tidak pernah merasakan kesedihan, kita tidak akan merasakan nikmatnya kebahagiaan. Jika kita tidak pernah merasakan kekecewaan, kita tidak akan pernah bersyukur. Tidaklah Allah menciptakan kebahagiaan kecuali ada kesedihan. Ketika kesedihan menyapa, hadapilah walau terasa berat dan menangislah. Menangis bukanlah hal yang tidak boleh dilakukan, menangis adalah fitrah manusia. Bukankah Allah subhanahu wa ta'ala telah memberikan nikmat berupa kemampuan untuk merasakan dan mengungkapkannya.

وَاَنَّهٗ هُوَ اَضۡحَكَ وَاَبۡكٰىۙ‏

"Dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis". (QS. An Najm :43)

Ketika kesedihan itu sudah terasa 'berat' dan kita merasa sudah lelah, berwudhu lalu sholatlah, perbanyak istighfar, pergilah ke taman-taman surga, dan perbanyak baca Al-Quran karena Al-Quran merupakan sumber ketenangan hati. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram". (QS. Ar Ra'du : 28)

Ya Allah...

Ketika semua cara tak mampu menyelesaikan, setiap jalan yang ditempuh menyempit,  dan merasa harapan itu telah terputus. Menyerulah : "Ya Allah" 
Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan himpitan persoalan hidup yang tiada henti dan jiwa yang tertekan oleh beban kehidupan yang terlalu berat. Menyerulah : "Ya Allah" 

Setiap ucapan yang baik, doa yang tulus, rintihan yang jujur, air mata yang menetes dengan penuh keikhlasan dan semua keluhan yang menyesakkan hati, hanya pantas ditujukan kepada Nya.

        Kuingat Engkau saat alam begitu gelap gulita
        Dan wajah zaman berlumuran debu hitam
        Kusebut nama Mu dengan lantang di saat fajar menjelang
        Dan fajar pun merekah seraya menebar senyuman indah 



Suatu Malam yang sepi
@Yogyakarta, 3 Juni 2024



Sumber bacaan:

Dr. 'Aidh al-Qarni. 2003. La Tahzan: Jangan Bersedih. Jakarta: Qisthi Press
https://rumaysho.com/2393-sedih-yang-tercela-dan-terpuji.html
https://muslim.or.id/83971-al-quran-adalah-sumber-ketenangan-hati.html


Kamis, 25 April 2019

Masalah Adalah Masa Mengenal Allah

Masalah Adalah Masa Mengenal Allah

Dalam kehidupan ini adalah suatu kepastian pernah mendapatkan musibah. Sebagai seorang muslim yang beriman kepada takdir Allah, kita sangat yakin apapun yang Allah takdir kan merupakan kebaikan bagi hamba Nya.

Apabila terjadi musibah, disaat kita merasa dititik nol, menangis lah. Jangan kau tahan air matamu, karena itulah salah satu tujuan Allah menciptakan air mata. Tumpahkan dengan bersujud kepada Nya. Rasakan bahwa dirimu sangat dekat-dekat sekali dengan Allah, yang maha segalanya.

Sangat manusiawi jika kita bersedih, namun tak selayaknya sedih yang terus menerus sampai meratapinya. Seberapa lamapun kita menangis, takdir itu telah terjadi dan waktu tak akan pernah berputar kembali ke belakang. Jadi janganlah membuang-buang waktu, segera bangkit, terimalah dan yakinlah bahwa ada hikmah dibalik musibah.

Allah berfirman yang artinya:
"Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah maha mengetahui segala sesuatu." (QS. At Thaghabun: 11).

Mengenai hikmah, banyak sekali yang bisa didapat sebenarnya dibalik musibah, namun terkadang kita lupa bahkan terlena dengan 'beratnya' musibah saja sehingga lupa bahwa ada 'pelangi' setelahnya.

Hikmah pertama adalah supaya kita kembali kepada Allah, mengingat Allah. Kedua, salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hambanya yang melebihi kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Ketiga, melatih kesabaran. Keempat, musibah dapat menghapus dosa-dosa hambanya. Dan masih banyak lagi hikmah yang kita peroleh dibalik musibah.

Jadi apakah kita harus bersyukur setiap mendapat musibah??
Syaikh Muhammad bin Al-Utsaimin berkata:
"Manusia ketika terjadi musibah ada 4 keadaan:
1. Marah
2. Bersabar
3. Ridha
4. Bersyukur
Inilah keadaan manusia ketika terjadinya musibah."

Saya tuliskan ulang 'puisi' yang inspiratif yang terdapat pada buku "Hikmah Di Balik Musibah".
Orang konyol buat masalah
Orang kerdil memperbesar masalah
Orang biasa membicarakan masalah
Orang besar mengatasi masalah
Orang bijak bersyukur dengan masalah
Orang kreatif melihat pulang dari masalah
Orang bertaqwa naik derajat karena masalah
Jadi, gak ada masalah dengan masalah
Masalahnya, bagaimana cara kita menyikapi masalah
Karena hakikatnya, hidup itu rangkaian masalah demi masalah
So, jadikanlah MASALAH sebagai Masa Mengenal Allah.

Jadi dalam Islam pun mengajarkan bagaimana kita secara bijak dalam menghadapi musibah. Selalu berfikir positif, berkhusnudzon pada Allah, bisa jadi kita menghadap Allah tanpa dosa.

"Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."


Itu saja..#catatanharianku hari ini

Sumber bacaan : Hikmah di balik Musibah karangan Ustadz Raehanul Bahraen

NB: Catatan ini dibuat sebagai pengingat diri terkhusus untuk sy pribadi

Senin, 25 Februari 2019

Mengalah dan Impian

Mengalah dan Impian



Tak lelah ku melangkah
Walau terseok lelah
Terjalnya jalan yang kutempuh
Hingga harus bersimpuh

Panas mentari membakar
Peluh basahi diri
Takkan padamkan semangat diri
Langkah langkah tetap berkobar

Hujan pun menjadi saksi
Menguji menemani
Setiap impian
Tak sekedar harapan

Tuhan...
Impian yang tergenggam erat
Sudah semakin dekat
Semangat pun menguat
Tersenyum ku melihat

Sejengkal lagi
Menorehkan senyum mereka
Menuntaskan janji
Meneteskan air mata bangga

Tapi Engkau berikan pilihan
Oh Tuhan
Sulit ku memilih
Mereka ataukah dia dan dia

Kaki kecil tangan kecil
Senyum manis Wajah polos
Menyentuh dalam dalam 
Hati jiwa yang dalam

Tuhan
Impian yang tergenggam erat
Luluh lepas
Berpaling cepat
Secepat kilat lepas

Kini
Tak peduli impian itu
Hanya beribu maaf
Yang tak bisa terucap
Maaf maaf maaf


Dia dan dia. Afra dan Aqila. 
@ Patek Beach, Situbondo



Kala sedih menyapa
Klaten, 25 Februari 2019

x

Rabu, 06 Februari 2019

Hujan...

Hari ini, sejak memasuki waktu subuh hujan mengguyur kota Seribu Candi ini, ya kota Klaten. Kulihat melalui jendela kamar suasana diluar, sepi dan segar. Terlintas dihati, ahh damainya pagi ini. Rintik air hujan yang menyentuh bumi membuat geosmin yang dihasilkan bakteri Streptomyces terpecah. Menghasilkan bau tanah yang menenangkan atau dikenal dengan petrichor.

Halaman berbatu di depan rumah, Tulungagung

Hujan...hujan selalu ditunggu namun juga dibenci, bahkan  diumpat dan dimaki. Hujan membawa hawa dingin tapi dibalik itu ada kehangatan. Ya kehangatan tentang cinta, rindu, dan kenangan.

Sejak dulu, pertama kali yang terlintas ketika melihat dan merasakan hujan selalu mengingatkanku pada keluargaku, dulu, saat aku masih berusia anak-anak. Ketika hujan kami selalu berkumpul diruang tamu sambil bercerita, bergilir tanpa rencana. Kadang kami senyum, gemas dan tertawa bersama mendengar lantunan cerita yang kami bawakan.
Ahh...rindu sekali dengan keluarga ku begitu juga suasananya. Sederhana tapi bahagia. Keluargaku seperti tetesan embun  yang menyejukkan. Bagaimana tidak? Keluarga selalu ada di sampingku saat aku terpuruk, selalu mendoakan yang terbaik, dan mereka pulalah yang akan mengurusku ketika aku tiada. Keluarga adalah lebih dari sekedar sahabat sejati.


Semoga hujan selalu mengingatkanku untuk selalu bersyukur dan jauhkanlah mulut kami dari caci maki tak berguna.
Serta hawa dingin yang dibawanya mengingatkanku untuk selalu rendah hati kepada siapapun.

Tetesan hujan pada daun mawar merah milik Ibu, Tulungagung

“Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran). ” (QS. An Nahl: 65)


Hujan selalu membawa pesan dan kesan tersendiri. Keberadaannya tidak hanya dibutuhkan oleh kita sebagai manusia tapi bumi pun membutuhkannya.

Videos by micas_world


A slight rain comes, bathed in dawn light.
I hear it among treetop leaves before mist
Arrives. Soon it sprinkles the soil and,
Windblown, follows clouds away. Deepened

Colors grace thatch homes for a moment.
Flocks and herds of things wild glisten
Faintly. Then the scent of musk opens across
Half a mountain -- and lingers on past noon.
(Morning Rain by Du Fu)

Morning Rain
Klaten, 6 Februari 2019





Rabu, 26 Desember 2018

Kesunyian Malam dan Singkatnya Waktu

Kesunyian Malam dan Singkatnya Waktu

Jarum jam telah menunjukkan pukul 1.10 WIB dini hari, mata ini masih belum ingin terpejam lagi. Tak terasa sudah 8 hari di Situbondo. Menghabiskan waktu bersama keluarga, menghapus rindu yang telah lama terpendam. Melihat canda tawa si Kakak dan adik bersama kakek dan neneknya seperti oase yang menyejukkan.

Sejenak pikiranku melayang, mengingat kembali kisah hidupku  10 tahun yang lalu, 15 tahun yang lalu, 20 tahun yang lalu. Mungkin saat itu di pukul 01.10, aku meringkuk dalam selimut, terbuai mimpi dan berfikir bahwa aku terlalu muda untuk merisaukan semuanya.

Ternyata telah 1/4 abad lebih kulalui hidup ini. Terkadang aku bertanya pada diri sendiri, apa yang telah aku lakukan selama ini, apa yang telah aku persiapkan untuk akhiratku nanti, apakah esok, 1 tahun yang akan datang, 10 tahun yang akan datang aku masih bisa sesegar hari ini? Aku tak pernah tau.

Di kesunyian malam ini mengusikku untuk merenungkan semuanya, segala hal yang telah aku lalui. Oh Tuhan, ternyata semua begitu cepat berlalu. Saat malam datang, kupikirkan saat siang yang telah kulalui. Saat senja tiba, ku berangan akan melihat indahnya langit ketika matahari terbit. Begitulah seterusnya...

Namun, sesungguhnya waktu ku lah yang berkurang. Tanpa kusadari, senja yang elok mengingatkan bahwa aku telah melalui pagi hari.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Tidak akan datang kiamat sehingga zaman semakin berdekatan“.

Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah pula, katanya : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Tidak akan datang kiamat sehingga waktu semakin berdekatan , setahun seperti sebulan, sebulan seperti sejum’at, sejum’at seperti sehari, sehari seperti sejam, dan sejam terasa hanya sekejap”.

وَالْعَصْرِ
1. Demi massa

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
2. Sesungguhnya manusia itu benar – benar berada dalam kerugian

إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Money Says, “Earn me and forget everything”. Time Says, “Follow Me and forget everything”. Future Says, “Struggle for me, forget everything”. Allah says, “just remember me, i’ll give you everything”.

Ya Allah, jadikanlah singkatnya waktu untuk selalu mengingat Mu
Ya Allah, jadikanlah malam sebagai pengingat hamba untuk selalu bersujud pada Mu

Picture :@gunung Ijen. Me and my two daughters.

@Situbondo, Menjelang Fajar di Penghujung Tahun
27 Desember 2018

Jumat, 27 Juli 2018

JALAN SURGAKU

JALAN SURGAKU




Alhamdulillah, sekarang keluarga kami bertambah satu lagi. Putri kecil yang lucu dan cantik, masyaallah. Terlahir kedunia pada hari Senin tanggal 5 Februari 2018. Kuberikan nama yang terbaik buatmu, insyaallah, putriku Aqila Syahanna Lestari. Saat kau terlahir, tak terasa air mata papa dan mama jatuh, bukan karena sedih tapi karena bahagia. Melihatmu terlahir sehat dan mama mu yang berjuang melahirkan mu pun sehat walau terlihat sangat letih. 

Sedangkan anak pertama kami, Afra Saskiya Lestari, belum genap usianya 2 tahun telah menjadi seorang kakak. Masyaallah, kami diberikan dua orang anak perempuan. Sungguh perasaan kami sangat senang, karena kami teringat sabda Rasulullah tentang keutamann mempunyai anak perempuan. 

Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ
“Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku” (Anas bin Malik berkata : Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau).
(HR Muslim 2631)

Dalam agama islam, anak-anak perempuan sangat dimuliakan, mengangkat kedudukan para perempuan dan 'memerangi' adat jahiliyah yang merendahkan anak perempuan. Sungguh, islam adalah agama yang sempurna hingga pendidikan seorang anakpun diperhatikan. Namun saat ini, banyak orangtua kurang memperhatikan pendidikan akhlak kepada anak. Terkadang mereka hanya berfikir bagaimana cara untuk membahagiakan anak. Namun kebahagiaan yang semacam apa yang ingin diwujudkan? Apakah bahagia tatkala bisa mendapatkan sekolah favorit? Menjadi bintang kelas? ataukah bahagia tatkala si anak tidak kekurangan apapun? hingga lupa untuk mengenalkan Islam, memberikan pendidikan tentang akhlak yang baik.

Siapakah diantara kita yang ingin terhalangi dari api neraka?
Siapakah diantara kita yang tidak ingin dikumpulkan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga?

Semua itu bisa diraih dengan kesabaran dalam mendidik putri-putri kita (anak-anak kita). Kebahagiaan yang sebenarnya adalah buah dari keimanan kepada Allah, berupa ketenangan hati: bersabar ketika mendapat musibah dan bersyukur tatkala mendapatkan nikmat. Didiklah anak-anak kita seperti yang telah dicontohkan oleh Lukman. Bukan sekedar harta, perhiasan dan dunia melainkan sesuatu yang lebih berharga dari apapun.



Allah subhanahu wa ta’ala berfirman melalui lisan Lukman:

“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang besar.’ Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orangtua ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan yang lemah yang bertambah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepadaKu dan kepada ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya didunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu, maka kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Lukman berkata), ‘Hai anakku sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau dilangit atau didalam bumi niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjaln dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.'” (QS. Luqman: 13-19)


Jangan sampai kita menyesal suatu hari nanti. Tidak sedikit kita sebagai orangtua menyalahkan si anak, ketika sang anak tumbuh menjadi pembangkang, membantah bahkan durhaka kepada orangtua. Kita beralasan karena si anak salah gaul, tidak bermoral, atau alasan yang lainnya. Bukan...bukan karena salah gaul, tidak bermoral, tetapi kita sebagai orangtuanya tak pernah mengajarkan akhlak yang baik.

Sudahkah kita membina anak dengan baik sejak kecil? sudahkah anak tau bagaimana cara berbakti kepada orangtua? sudahkah anak tau bagaimana beretika yang baik dari bangun tidur hingga tidur kembali? sudahkah anak kita dibimbing untuk memilih lingkungan yang baik? Jika belum, salahkan diri kita sebagai orang tua dan pantas saja jika kita menuai buah yang telah kita tanam sendiri.

Seperti perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah,

"Hendaknya anak dijauhkan dari berlebihan dalam makanan, berbicara, tidur dan berbaur dengan perbuatan dosa, sebab kerugian akan didapat dari hal-hal itu dan menjadi penyebab hilangnya kebaikan dunia dan akhirat. Anak harus dijauhkan dari bahaya syahwat perut dan kemaluan sebab jika anak sudah dipengaruhi oleh kotoran syahwat maka akan rusak dan hancur. Berapa anak tercinta menjadi rusak akibat keteledoran dalam pendidikan dan pembinaan bahkan orangtua membantu mereka terjerat dalam syahwat dengan anggapan hal itu sebagai ungkapan perhatian dan rasa kasih sayang kepada anak padahal sejatinya telah menghinakan dan membinasakan anak sehingga orangtua tidak mengambil manfaat daria anak dan tidak meraih keuntungan dari anak baik didunia maupun diakhirat. Apabila engkau perhatikan dengan seksama maka kebanyakan anak rusak berpangkal dari orangtua.”

Ya  mungkin saat anak masih kecil belum terasa dampak dari pentingnya akhlak bagi orangtua. Namun saat dewasa kelak maka akan terasa dampaknya bagi kita sebagai orangtua. Sekali lagi, AKHLAK YANG BAIK adalah harta yang lebih berharga dari sekedar harta dunia yang melimpah.
Tanamkan akhlak dari hal yang paling sederhana, misalnya:

1. Dengan memberi contoh mengucapkan salam.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Dan maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu jika kalian mengerjakannya maka kalian akan saling mencintai? Tebarkan salam diantara kalian.” (HR. Muslim)

2. Memperhatikan etika dalam makan.
Dari umar bin Abu Salamah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepadaku,
“Sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu serta makanlah dari makanan yang paling dekat denganmu.” (Muttafaqun ‘alaih)

3. Mengajarkan rasa kebersamaan dengan saudara muslim yang lain, misalnya dengan menjenguk orang sakit.
Dari Abu Hurairoh radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima; menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, menghadiri undangan dan mendoakan orang yang bersin.” (Muttafaqun ‘alaihi)

4. Mengajarkan kejujuran.
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
“Peganglah kejujuran karena sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan dan kebaikan menunjukan kepada surga. Seseorang selalu jujur dan memelihara kejujuran hingga tercatat di sisi Allah termasuk orang yang jujur. Dan hindarilah dusta karena kedustaan menunjukkan kepada kejahatan dan kejahatan menunjukkan kepada neraka. Seseorang selalu berdusta dan terbiasa berbuat dusta hingga tertulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari Muslim)

Akhlak yang baik dari seorang anak akan melahirkan generasi yang baik, generasi yang taat kepada Allah, memuliakan orangtua, dan memperhatikan hak sesama muslim.
 Wallohu a’lam bishowab.

My two daughters @pantai pathek Situbondo


 
My Family's Hands

 Klaten
Malam yang sunyi
27 Juli 2018


Minggu, 20 Mei 2018

SEPATU KARET



SEPATU KARET

Kisah ini tidak seperti kisah Cinderella dengan sepatu kacanya. Tetapi ini tentang sepatu karet. Sepatu karet ya... sepatu karet. Mendengar sepatu karet yang terbersit dalam pikiran adalah kesederhanaan. Ya memang modelnya simple dan harga sepatu ini sangat terjangkau sekali dan bisa didapat di pedagang sepatu emperan, tak perlu ke Toko. 

Aku dan sahabatku, Winda, menjadi dekat karena sepatu karet ini. Ya.. sama-sama memakai sepatu karet. Sepatu karet ini menjadi salah satu saksi bisu perjalanan dan perjuangan kami, hingga akhir hayat sepatu. Ya...sepatu karet itu telah usang dan kini entah dimana keberadaannya. 

Sepatu karet ini bagi kami sangat 'mahal' karena sepatu karet ini selalu menemani kami selama berjuang mengejar cita dan impian kami.  Bentuknya sudah tak keruan mengikuti gerak telapak kaki mengarungi perjalanan kami. Siluetnya pun sudah tak menampakkan bentuk sepatu yang baik. Sepatu kami bertahan karena fungsinya, melindungi telapak kaki kami. Panas dan hujan, suka dan duka dilalui bersama, tsahhh…*lebay mode on.

 Dan Inilah sepenggal kisah tentang aku, sahabatku dan sepatu karet. Sahabatku itu bernama Winda. Dia adalah teman semasa kuliah di pascasarjana IPB. Ya orangnya sangat sederhana sekali tapi jangan tanya tentang impiannya. Impiannya tidak sederhana, impiannya high class menurutku. Ditengah mengejar impian, dia juga harus membantu menafkahi sang adik dan keluarganya. 

Semasa kuliah, 'jam terbangnya' pun mengalahkan seorang dosen. Selain harus kuliah, dia juga harus kerja, mengajar di salah satu bimbingan belajar di Bintaro. Pagi kuliah, sore hingga malam hari mengajar, dan tiba di kos pun sudah larut malam. Hal ini terus dilakukannya kuranglebih hingga akhir semester (2 tahun)pun masih mengajar (sebatas pengetahuanku saat itu). 

Saat ini, sedikit demi sedikit jerih payahnya 'terbayar'. Alhamdulillah si Adik sudah mencapai cita-citanya yaitu menjadi tentara. Sedangkan, Winda sekarang sudah ada di Negara lain, Jerman, untuk mengejar impiannya, S3. Suatu saat nanti dia ingin menjadi dosen, katanya. Insyaallah, semoga Allah mengabulkan doamu, Wind.

Aku...bagaimana denganku sekarang?
Sekarang aku sudah menjadi seorang Ibu, Ibu dari dua orang anak perempuan. Kesibukanku? Mengurus surgaku yaitu suami dan anak-anakku. Insyaallah sampai ajal menjemputku. 



Hai kawan, masih ingatkah dengan sepatu karet itu? Aku tau kamupun pasti tersenyum ketika mendengarnya. Sepatu kami sama, persis, nge-plek padahal gak janjian. Tapi ada perbedaan diantara sepatu kami. Sepatuku robek melintang di bagian bawahnya nyaris terbelah menjadi dua bagian. Well, dengan ide brilliant saat itu akhirnya aku lakban hitam bagian bawahnya dan it work, Alhamdulillah bisa bertahan lebih lama. Tapi masalah tak berhenti disitu saja. Bogor adalah kota hujan, kebayang kan bagaimana nasibku. Wuaaaa….*mewek. Butuh sedikit perjuangan ketika berjalan disaat hujan. Air selalu merembes masuk kedalam sepatu jadi setiap berjalan akan berbunyi ‘ceprot…ceprot…’. Jadi aku harus ekstra hati-hati jika tidak orang-orang akan mengira aku lagi kentut. Haha…. 
Berbeda dengan sepatuku, sepatu winda sobek bagian tumit keatas, jadi tak ada penahan bagian belakang. Jadi ketika berjalan harus pelan dalam melangkah, jika tidak maka sepatu terlebih dahulu yang akan melangkah. Haha…jika teringat masa itu pasti senyum-senyum sendiri. Betul gak, wind?
Tak terpikirkan bagi kami untuk membeli sepatu baru lagi. Selain gak punya uang untuk beli (masih ada yang lebih penting untuk dibeli saat itu) dan banyak tugas yang harus diselesaikan sesuai deadline itulah yang mengalihkan perhatian kami.
Tak terasa itu sudah 5 tahun yang lalu (kurang lebih). Kami bertemu di IPB, sama-sama mahasiswa baru pascasarjana saat itu.
Kini kami sudah sama-sama menikah dan ada jarak diantara kita. Aku ikut suami, dan dia kini ada di Jerman untuk melanjutkan studinya. Masyaallah…
Banyak sekali kenangan-kenangan bersamamu, wind. Dan kamu sudah menempati porsi besar di hati dan sudah seperti adik bagiku.
Bagaimana tidak? Dirimu selalu ada buatku ketika aku jatuh dan dalam kesulitan. Malam terkelam dan ketika aku sedang hamil pun kamu selalu membantu ku walau kamu pun sedang sibuk. Semoga Allah selalu menjagamu dimanapun kamu berada ya. Aamiin…

Ahh, setiap teringat kejadian itu, aku tak bisa berkata-kata, wind. Alhamdulillah ‘ala kulli hal, segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.
Disaat pergi jauh dari keluarga terutama orang tua kita, teman-temanlah yang menjadi keluarga ku saat itu. Dan seperti keluarga kedua buatku. Insyaallah aku tidak akan pernah melupakan kalian. Terutama untukmu, Winda Ika Susanti. *Big hug for you

Klaten 
Pagi yang Dingin
Senin, 21 Mei 2018
 


Bersedih, Memang Boleh?

 BERSEDIH, MEMANG BOLEH?  Aku tahu, kehidupan di dunia ini tidaklah mudah dan tentu saja tak selalu indah. Kesedihan dan kebahagiaan selalu ...