Senin, 25 Februari 2019

Mengalah dan Impian

Mengalah dan Impian



Tak lelah ku melangkah
Walau terseok lelah
Terjalnya jalan yang kutempuh
Hingga harus bersimpuh

Panas mentari membakar
Peluh basahi diri
Takkan padamkan semangat diri
Langkah langkah tetap berkobar

Hujan pun menjadi saksi
Menguji menemani
Setiap impian
Tak sekedar harapan

Tuhan...
Impian yang tergenggam erat
Sudah semakin dekat
Semangat pun menguat
Tersenyum ku melihat

Sejengkal lagi
Menorehkan senyum mereka
Menuntaskan janji
Meneteskan air mata bangga

Tapi Engkau berikan pilihan
Oh Tuhan
Sulit ku memilih
Mereka ataukah dia dan dia

Kaki kecil tangan kecil
Senyum manis Wajah polos
Menyentuh dalam dalam 
Hati jiwa yang dalam

Tuhan
Impian yang tergenggam erat
Luluh lepas
Berpaling cepat
Secepat kilat lepas

Kini
Tak peduli impian itu
Hanya beribu maaf
Yang tak bisa terucap
Maaf maaf maaf


Dia dan dia. Afra dan Aqila. 
@ Patek Beach, Situbondo



Kala sedih menyapa
Klaten, 25 Februari 2019

x

Rabu, 06 Februari 2019

Hujan...

Hari ini, sejak memasuki waktu subuh hujan mengguyur kota Seribu Candi ini, ya kota Klaten. Kulihat melalui jendela kamar suasana diluar, sepi dan segar. Terlintas dihati, ahh damainya pagi ini. Rintik air hujan yang menyentuh bumi membuat geosmin yang dihasilkan bakteri Streptomyces terpecah. Menghasilkan bau tanah yang menenangkan atau dikenal dengan petrichor.

Halaman berbatu di depan rumah, Tulungagung

Hujan...hujan selalu ditunggu namun juga dibenci, bahkan  diumpat dan dimaki. Hujan membawa hawa dingin tapi dibalik itu ada kehangatan. Ya kehangatan tentang cinta, rindu, dan kenangan.

Sejak dulu, pertama kali yang terlintas ketika melihat dan merasakan hujan selalu mengingatkanku pada keluargaku, dulu, saat aku masih berusia anak-anak. Ketika hujan kami selalu berkumpul diruang tamu sambil bercerita, bergilir tanpa rencana. Kadang kami senyum, gemas dan tertawa bersama mendengar lantunan cerita yang kami bawakan.
Ahh...rindu sekali dengan keluarga ku begitu juga suasananya. Sederhana tapi bahagia. Keluargaku seperti tetesan embun  yang menyejukkan. Bagaimana tidak? Keluarga selalu ada di sampingku saat aku terpuruk, selalu mendoakan yang terbaik, dan mereka pulalah yang akan mengurusku ketika aku tiada. Keluarga adalah lebih dari sekedar sahabat sejati.


Semoga hujan selalu mengingatkanku untuk selalu bersyukur dan jauhkanlah mulut kami dari caci maki tak berguna.
Serta hawa dingin yang dibawanya mengingatkanku untuk selalu rendah hati kepada siapapun.

Tetesan hujan pada daun mawar merah milik Ibu, Tulungagung

“Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran). ” (QS. An Nahl: 65)


Hujan selalu membawa pesan dan kesan tersendiri. Keberadaannya tidak hanya dibutuhkan oleh kita sebagai manusia tapi bumi pun membutuhkannya.

Videos by micas_world


A slight rain comes, bathed in dawn light.
I hear it among treetop leaves before mist
Arrives. Soon it sprinkles the soil and,
Windblown, follows clouds away. Deepened

Colors grace thatch homes for a moment.
Flocks and herds of things wild glisten
Faintly. Then the scent of musk opens across
Half a mountain -- and lingers on past noon.
(Morning Rain by Du Fu)

Morning Rain
Klaten, 6 Februari 2019





Bersedih, Memang Boleh?

 BERSEDIH, MEMANG BOLEH?  Aku tahu, kehidupan di dunia ini tidaklah mudah dan tentu saja tak selalu indah. Kesedihan dan kebahagiaan selalu ...