Rabu, 26 Desember 2018

Kesunyian Malam dan Singkatnya Waktu

Kesunyian Malam dan Singkatnya Waktu

Jarum jam telah menunjukkan pukul 1.10 WIB dini hari, mata ini masih belum ingin terpejam lagi. Tak terasa sudah 8 hari di Situbondo. Menghabiskan waktu bersama keluarga, menghapus rindu yang telah lama terpendam. Melihat canda tawa si Kakak dan adik bersama kakek dan neneknya seperti oase yang menyejukkan.

Sejenak pikiranku melayang, mengingat kembali kisah hidupku  10 tahun yang lalu, 15 tahun yang lalu, 20 tahun yang lalu. Mungkin saat itu di pukul 01.10, aku meringkuk dalam selimut, terbuai mimpi dan berfikir bahwa aku terlalu muda untuk merisaukan semuanya.

Ternyata telah 1/4 abad lebih kulalui hidup ini. Terkadang aku bertanya pada diri sendiri, apa yang telah aku lakukan selama ini, apa yang telah aku persiapkan untuk akhiratku nanti, apakah esok, 1 tahun yang akan datang, 10 tahun yang akan datang aku masih bisa sesegar hari ini? Aku tak pernah tau.

Di kesunyian malam ini mengusikku untuk merenungkan semuanya, segala hal yang telah aku lalui. Oh Tuhan, ternyata semua begitu cepat berlalu. Saat malam datang, kupikirkan saat siang yang telah kulalui. Saat senja tiba, ku berangan akan melihat indahnya langit ketika matahari terbit. Begitulah seterusnya...

Namun, sesungguhnya waktu ku lah yang berkurang. Tanpa kusadari, senja yang elok mengingatkan bahwa aku telah melalui pagi hari.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Tidak akan datang kiamat sehingga zaman semakin berdekatan“.

Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah pula, katanya : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Tidak akan datang kiamat sehingga waktu semakin berdekatan , setahun seperti sebulan, sebulan seperti sejum’at, sejum’at seperti sehari, sehari seperti sejam, dan sejam terasa hanya sekejap”.

وَالْعَصْرِ
1. Demi massa

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
2. Sesungguhnya manusia itu benar – benar berada dalam kerugian

إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Money Says, “Earn me and forget everything”. Time Says, “Follow Me and forget everything”. Future Says, “Struggle for me, forget everything”. Allah says, “just remember me, i’ll give you everything”.

Ya Allah, jadikanlah singkatnya waktu untuk selalu mengingat Mu
Ya Allah, jadikanlah malam sebagai pengingat hamba untuk selalu bersujud pada Mu

Picture :@gunung Ijen. Me and my two daughters.

@Situbondo, Menjelang Fajar di Penghujung Tahun
27 Desember 2018

Jumat, 27 Juli 2018

JALAN SURGAKU

JALAN SURGAKU




Alhamdulillah, sekarang keluarga kami bertambah satu lagi. Putri kecil yang lucu dan cantik, masyaallah. Terlahir kedunia pada hari Senin tanggal 5 Februari 2018. Kuberikan nama yang terbaik buatmu, insyaallah, putriku Aqila Syahanna Lestari. Saat kau terlahir, tak terasa air mata papa dan mama jatuh, bukan karena sedih tapi karena bahagia. Melihatmu terlahir sehat dan mama mu yang berjuang melahirkan mu pun sehat walau terlihat sangat letih. 

Sedangkan anak pertama kami, Afra Saskiya Lestari, belum genap usianya 2 tahun telah menjadi seorang kakak. Masyaallah, kami diberikan dua orang anak perempuan. Sungguh perasaan kami sangat senang, karena kami teringat sabda Rasulullah tentang keutamann mempunyai anak perempuan. 

Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ
“Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku” (Anas bin Malik berkata : Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau).
(HR Muslim 2631)

Dalam agama islam, anak-anak perempuan sangat dimuliakan, mengangkat kedudukan para perempuan dan 'memerangi' adat jahiliyah yang merendahkan anak perempuan. Sungguh, islam adalah agama yang sempurna hingga pendidikan seorang anakpun diperhatikan. Namun saat ini, banyak orangtua kurang memperhatikan pendidikan akhlak kepada anak. Terkadang mereka hanya berfikir bagaimana cara untuk membahagiakan anak. Namun kebahagiaan yang semacam apa yang ingin diwujudkan? Apakah bahagia tatkala bisa mendapatkan sekolah favorit? Menjadi bintang kelas? ataukah bahagia tatkala si anak tidak kekurangan apapun? hingga lupa untuk mengenalkan Islam, memberikan pendidikan tentang akhlak yang baik.

Siapakah diantara kita yang ingin terhalangi dari api neraka?
Siapakah diantara kita yang tidak ingin dikumpulkan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga?

Semua itu bisa diraih dengan kesabaran dalam mendidik putri-putri kita (anak-anak kita). Kebahagiaan yang sebenarnya adalah buah dari keimanan kepada Allah, berupa ketenangan hati: bersabar ketika mendapat musibah dan bersyukur tatkala mendapatkan nikmat. Didiklah anak-anak kita seperti yang telah dicontohkan oleh Lukman. Bukan sekedar harta, perhiasan dan dunia melainkan sesuatu yang lebih berharga dari apapun.



Allah subhanahu wa ta’ala berfirman melalui lisan Lukman:

“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang besar.’ Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orangtua ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan yang lemah yang bertambah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepadaKu dan kepada ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya didunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu, maka kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Lukman berkata), ‘Hai anakku sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau dilangit atau didalam bumi niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjaln dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.'” (QS. Luqman: 13-19)


Jangan sampai kita menyesal suatu hari nanti. Tidak sedikit kita sebagai orangtua menyalahkan si anak, ketika sang anak tumbuh menjadi pembangkang, membantah bahkan durhaka kepada orangtua. Kita beralasan karena si anak salah gaul, tidak bermoral, atau alasan yang lainnya. Bukan...bukan karena salah gaul, tidak bermoral, tetapi kita sebagai orangtuanya tak pernah mengajarkan akhlak yang baik.

Sudahkah kita membina anak dengan baik sejak kecil? sudahkah anak tau bagaimana cara berbakti kepada orangtua? sudahkah anak tau bagaimana beretika yang baik dari bangun tidur hingga tidur kembali? sudahkah anak kita dibimbing untuk memilih lingkungan yang baik? Jika belum, salahkan diri kita sebagai orang tua dan pantas saja jika kita menuai buah yang telah kita tanam sendiri.

Seperti perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah,

"Hendaknya anak dijauhkan dari berlebihan dalam makanan, berbicara, tidur dan berbaur dengan perbuatan dosa, sebab kerugian akan didapat dari hal-hal itu dan menjadi penyebab hilangnya kebaikan dunia dan akhirat. Anak harus dijauhkan dari bahaya syahwat perut dan kemaluan sebab jika anak sudah dipengaruhi oleh kotoran syahwat maka akan rusak dan hancur. Berapa anak tercinta menjadi rusak akibat keteledoran dalam pendidikan dan pembinaan bahkan orangtua membantu mereka terjerat dalam syahwat dengan anggapan hal itu sebagai ungkapan perhatian dan rasa kasih sayang kepada anak padahal sejatinya telah menghinakan dan membinasakan anak sehingga orangtua tidak mengambil manfaat daria anak dan tidak meraih keuntungan dari anak baik didunia maupun diakhirat. Apabila engkau perhatikan dengan seksama maka kebanyakan anak rusak berpangkal dari orangtua.”

Ya  mungkin saat anak masih kecil belum terasa dampak dari pentingnya akhlak bagi orangtua. Namun saat dewasa kelak maka akan terasa dampaknya bagi kita sebagai orangtua. Sekali lagi, AKHLAK YANG BAIK adalah harta yang lebih berharga dari sekedar harta dunia yang melimpah.
Tanamkan akhlak dari hal yang paling sederhana, misalnya:

1. Dengan memberi contoh mengucapkan salam.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Dan maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu jika kalian mengerjakannya maka kalian akan saling mencintai? Tebarkan salam diantara kalian.” (HR. Muslim)

2. Memperhatikan etika dalam makan.
Dari umar bin Abu Salamah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepadaku,
“Sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu serta makanlah dari makanan yang paling dekat denganmu.” (Muttafaqun ‘alaih)

3. Mengajarkan rasa kebersamaan dengan saudara muslim yang lain, misalnya dengan menjenguk orang sakit.
Dari Abu Hurairoh radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima; menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, menghadiri undangan dan mendoakan orang yang bersin.” (Muttafaqun ‘alaihi)

4. Mengajarkan kejujuran.
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
“Peganglah kejujuran karena sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan dan kebaikan menunjukan kepada surga. Seseorang selalu jujur dan memelihara kejujuran hingga tercatat di sisi Allah termasuk orang yang jujur. Dan hindarilah dusta karena kedustaan menunjukkan kepada kejahatan dan kejahatan menunjukkan kepada neraka. Seseorang selalu berdusta dan terbiasa berbuat dusta hingga tertulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari Muslim)

Akhlak yang baik dari seorang anak akan melahirkan generasi yang baik, generasi yang taat kepada Allah, memuliakan orangtua, dan memperhatikan hak sesama muslim.
 Wallohu a’lam bishowab.

My two daughters @pantai pathek Situbondo


 
My Family's Hands

 Klaten
Malam yang sunyi
27 Juli 2018


Minggu, 20 Mei 2018

SEPATU KARET



SEPATU KARET

Kisah ini tidak seperti kisah Cinderella dengan sepatu kacanya. Tetapi ini tentang sepatu karet. Sepatu karet ya... sepatu karet. Mendengar sepatu karet yang terbersit dalam pikiran adalah kesederhanaan. Ya memang modelnya simple dan harga sepatu ini sangat terjangkau sekali dan bisa didapat di pedagang sepatu emperan, tak perlu ke Toko. 

Aku dan sahabatku, Winda, menjadi dekat karena sepatu karet ini. Ya.. sama-sama memakai sepatu karet. Sepatu karet ini menjadi salah satu saksi bisu perjalanan dan perjuangan kami, hingga akhir hayat sepatu. Ya...sepatu karet itu telah usang dan kini entah dimana keberadaannya. 

Sepatu karet ini bagi kami sangat 'mahal' karena sepatu karet ini selalu menemani kami selama berjuang mengejar cita dan impian kami.  Bentuknya sudah tak keruan mengikuti gerak telapak kaki mengarungi perjalanan kami. Siluetnya pun sudah tak menampakkan bentuk sepatu yang baik. Sepatu kami bertahan karena fungsinya, melindungi telapak kaki kami. Panas dan hujan, suka dan duka dilalui bersama, tsahhh…*lebay mode on.

 Dan Inilah sepenggal kisah tentang aku, sahabatku dan sepatu karet. Sahabatku itu bernama Winda. Dia adalah teman semasa kuliah di pascasarjana IPB. Ya orangnya sangat sederhana sekali tapi jangan tanya tentang impiannya. Impiannya tidak sederhana, impiannya high class menurutku. Ditengah mengejar impian, dia juga harus membantu menafkahi sang adik dan keluarganya. 

Semasa kuliah, 'jam terbangnya' pun mengalahkan seorang dosen. Selain harus kuliah, dia juga harus kerja, mengajar di salah satu bimbingan belajar di Bintaro. Pagi kuliah, sore hingga malam hari mengajar, dan tiba di kos pun sudah larut malam. Hal ini terus dilakukannya kuranglebih hingga akhir semester (2 tahun)pun masih mengajar (sebatas pengetahuanku saat itu). 

Saat ini, sedikit demi sedikit jerih payahnya 'terbayar'. Alhamdulillah si Adik sudah mencapai cita-citanya yaitu menjadi tentara. Sedangkan, Winda sekarang sudah ada di Negara lain, Jerman, untuk mengejar impiannya, S3. Suatu saat nanti dia ingin menjadi dosen, katanya. Insyaallah, semoga Allah mengabulkan doamu, Wind.

Aku...bagaimana denganku sekarang?
Sekarang aku sudah menjadi seorang Ibu, Ibu dari dua orang anak perempuan. Kesibukanku? Mengurus surgaku yaitu suami dan anak-anakku. Insyaallah sampai ajal menjemputku. 



Hai kawan, masih ingatkah dengan sepatu karet itu? Aku tau kamupun pasti tersenyum ketika mendengarnya. Sepatu kami sama, persis, nge-plek padahal gak janjian. Tapi ada perbedaan diantara sepatu kami. Sepatuku robek melintang di bagian bawahnya nyaris terbelah menjadi dua bagian. Well, dengan ide brilliant saat itu akhirnya aku lakban hitam bagian bawahnya dan it work, Alhamdulillah bisa bertahan lebih lama. Tapi masalah tak berhenti disitu saja. Bogor adalah kota hujan, kebayang kan bagaimana nasibku. Wuaaaa….*mewek. Butuh sedikit perjuangan ketika berjalan disaat hujan. Air selalu merembes masuk kedalam sepatu jadi setiap berjalan akan berbunyi ‘ceprot…ceprot…’. Jadi aku harus ekstra hati-hati jika tidak orang-orang akan mengira aku lagi kentut. Haha…. 
Berbeda dengan sepatuku, sepatu winda sobek bagian tumit keatas, jadi tak ada penahan bagian belakang. Jadi ketika berjalan harus pelan dalam melangkah, jika tidak maka sepatu terlebih dahulu yang akan melangkah. Haha…jika teringat masa itu pasti senyum-senyum sendiri. Betul gak, wind?
Tak terpikirkan bagi kami untuk membeli sepatu baru lagi. Selain gak punya uang untuk beli (masih ada yang lebih penting untuk dibeli saat itu) dan banyak tugas yang harus diselesaikan sesuai deadline itulah yang mengalihkan perhatian kami.
Tak terasa itu sudah 5 tahun yang lalu (kurang lebih). Kami bertemu di IPB, sama-sama mahasiswa baru pascasarjana saat itu.
Kini kami sudah sama-sama menikah dan ada jarak diantara kita. Aku ikut suami, dan dia kini ada di Jerman untuk melanjutkan studinya. Masyaallah…
Banyak sekali kenangan-kenangan bersamamu, wind. Dan kamu sudah menempati porsi besar di hati dan sudah seperti adik bagiku.
Bagaimana tidak? Dirimu selalu ada buatku ketika aku jatuh dan dalam kesulitan. Malam terkelam dan ketika aku sedang hamil pun kamu selalu membantu ku walau kamu pun sedang sibuk. Semoga Allah selalu menjagamu dimanapun kamu berada ya. Aamiin…

Ahh, setiap teringat kejadian itu, aku tak bisa berkata-kata, wind. Alhamdulillah ‘ala kulli hal, segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.
Disaat pergi jauh dari keluarga terutama orang tua kita, teman-temanlah yang menjadi keluarga ku saat itu. Dan seperti keluarga kedua buatku. Insyaallah aku tidak akan pernah melupakan kalian. Terutama untukmu, Winda Ika Susanti. *Big hug for you

Klaten 
Pagi yang Dingin
Senin, 21 Mei 2018
 


Selasa, 30 Januari 2018

Teruntuk Putriku Tercinta

Teruntuk Putri-putriku

Aku tahu ini tak akan semudah yang engkau pikirkan
Putriku… engkau memang bukanlah putri raja arab ataupun orang arab… namun berhijablah
Putriku… Ayah mu pun bukanlah raja arab… namun berhijablah
Putriku… Aku pun demikian… bukan orang arab tapi akupun berhijab… sama sepertimu
Dan yang kutahu kau dan aku berhijab bukan karena meniru orang arab..
Yang kutahu Tuhanku dan Tuhanmu… Allah ‘azza wa jalla memerintahkan demikian

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)

Walaupun suatu saat nanti… jangankan satu putri Arab yang enggan berhijab… seluruh wanita di dunia enggan berhijab… kuharap hanya engkau putriku tetaplah demikian dengan hijabmu… karena cintamu pada Rabb mu dan Rasulullah di atas segalanya

Karena Rasul kita Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada ummat nya
“………Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian…..” [HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”]

“Akan tiba suatu zaman bagi manusia, barnagsiapa di antara mereka yang bersabar berpegang teguh pada agamanya, ia ibarat menggenggam bara api” (HR. At Tirmidzi 2260, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi) 

 #pesan mama untuk Ara dan Aqila

Nasihat ini kupersembahkan untuk putri-putri mama yaitu Ara (Afra Saskia Lestari) dan Qila (Aqila Syahanna Lestari). Mama tau mungkin kalian belum mengerti karena usia Ara masih 22 bulan dan adek Qila masih dalam perut mama usia 39 minggu. Mama menuliskan nasihat ini karena sayang kalian berdua dan sebelum mama menjadi tua serta akan mulai lupa akan nasihat ini. Semoga bermanfaat buat Ara dan Qila. I love you both :)

Klaten, Rabu, 31 Januari 2018
Dikala Mendung Menyapa

(Sumber: gloomysunset)

Kamis, 18 Januari 2018

Jangan Pernah Menyepelekan Doa



Jangan Pernah Menyepelekan Doa

Bismillah

Entah mengapa ketika senja sore selalu ingin menulis. Mungkin ketika itulah semua perkara duniawi akan ditinggalkan, menyambut malam untuk beristirahat, bertemu suami dan bersenda gurau dengan si kecil. Sungguh hilanglah penat setelah segala aktivitas yang dikerjakan.

Hari telah larut, aku melihat paras wajah suami yang menyimpan seluk beluk masalah pekerjaan dan kehidupan, sirna dengan sambutan canda tawa si kecil.  Aku tau, tubuh dan pakaiannya seolah melekat menjadi satu dengan kulit yang basah oleh keringat, lutut yang lelah seolah kaki tak mampu berjalan, sedih yang tak bisa dielakkan dari senyum wajah yang terpaksa.

Dalam setiap pekerjaan selalu ada persimpangan dan setiap kali menemui persimpangan, ketika segenap usaha sudah dilakukan seolah tak berarti. Disitulah sesungguhnya manusia diuji, bahwa sesungguhnya kita manusia adalah makhluk yang lemah. Maka berdoalah berdoalah berdoalah, mintalah kepada Sang Maha Kuat. Allah ‘Azza wajalla…
Terkesima dengan nasihat dari Ustadz Firanda tentang Do’a.
Kepada saudaraku yang hatinya terluka
Kalbunya dimakan kesedihan dan kegelisahan
Kepada saudaraku yang dilindas dan digilas beratnya kemiskinan, dililit hutang yang menggunung
Kepada saudaraku yang memikul segunung problematika yang merasa seluruh jalan dan sebab telah tertutup…
Apakah kau lupa senjatamu yang sangat ampuh??
DOA…dialah permohonan yang ditujukan kepada Pencipta alam semesta ini
 Apakah kau meremehkannya???

Al-Imam As-Syaafi’i rahimahullah berkata :

أَتَهْزَأُ بِالدُّعَاءِ وَتَزْدَرِيهِ *** وَمَا تَدْرِي بِمَا صَنَعَ الدُّعَاءُ

Apakah engkau mengejek doa dan menyepelekannya. Tidakkah engkau tahu apa yang bisa diperbuat oleh doa?

سِهَامُ اللَّيلِ لا تُخْطِي وَلَكِنْ *** لَهَا أَمَدٌ وَلِلْأَمَدِ انْقِضَاءُ

Anak panah yang dilepaskan di malam hari, tidak akan meleset
Akan tetapi…
Anak panah tersebut ada waktunya/tempo untuk mengenai…dan setiap waktu pasti ada akhirnya
Janganlah pernah meremehkan doa. Ia adalah senjata kaum shalihin bahkan senjata para Nabi ‘alaihim as-salaam.

Angkatlah kedua tanganmu. Mintalah kepada Rabb-mu. Jangan pernah malu untuk meminta kepada Rabb-mu yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang kepada para hambaNya.
Curahkan segala keluh kesahmu kepada Rabb-mu yang lebih rahmat kepada seorang hamba dari kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.
Masihkah engkau berburuk sangka kepadaNya, masihkah engkau enggan untuk berdoa??
Bangunlah di gelapnya malam tatkala semua orang tertidur pulas, keluhkan seluruh bebanmu kepada Allah….

لاَ تَسْأَلَنَّ بَنِي آدَمَ حَاجَةً *** وَسَلِ الَّذِي أَبْوَابُهُ لاَ تُحْجَبُ

Jangan sekali-kali engkau meminta hajatmu kepada anak Adam…
Akan tetapi mintalah kepada Dzat yang pintu-pintunya tidak pernah tertutup

اللهُ يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ *** وَبَنِي آدَمَ حِيْنَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ

Allah murka jika engkau tidak meminta kepadaNya
Adapun anak Adam jika engkau meminta-minta kepadanya maka ia marah.


Teruntuk Suamiku, jangan pernah lelah, insyaallah peluhmu tak akan sia-sia.

 *********

Hari Jumat yang mendung

Klaten, 19 Januari 2018

Bersedih, Memang Boleh?

 BERSEDIH, MEMANG BOLEH?  Aku tahu, kehidupan di dunia ini tidaklah mudah dan tentu saja tak selalu indah. Kesedihan dan kebahagiaan selalu ...