JALAN SURGAKU
Alhamdulillah,
sekarang keluarga kami bertambah satu lagi. Putri kecil yang lucu dan cantik,
masyaallah. Terlahir kedunia pada hari Senin tanggal 5 Februari 2018. Kuberikan
nama yang terbaik buatmu, insyaallah, putriku Aqila Syahanna Lestari. Saat kau terlahir,
tak terasa air mata papa dan mama jatuh, bukan karena sedih tapi karena
bahagia. Melihatmu terlahir sehat dan mama mu yang berjuang melahirkan mu pun
sehat walau terlihat sangat letih.
Sedangkan anak pertama kami, Afra Saskiya Lestari, belum genap usianya 2 tahun telah menjadi seorang kakak. Masyaallah, kami diberikan dua orang anak perempuan. Sungguh perasaan kami sangat senang, karena kami teringat sabda Rasulullah tentang keutamann mempunyai anak perempuan.
Diriwayatkan dari
sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ
حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ
“Barangsiapa yang
mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat
bersamaku” (Anas bin Malik berkata : Nabi menggabungkan jari-jari jemari
beliau).
(HR Muslim 2631)
Dalam agama islam, anak-anak perempuan sangat dimuliakan, mengangkat kedudukan para perempuan dan 'memerangi'
adat jahiliyah yang merendahkan anak perempuan. Sungguh, islam adalah agama yang sempurna hingga pendidikan seorang anakpun diperhatikan. Namun saat ini, banyak orangtua kurang memperhatikan pendidikan akhlak kepada anak. Terkadang mereka hanya berfikir bagaimana cara untuk membahagiakan anak. Namun kebahagiaan yang semacam apa yang ingin diwujudkan? Apakah bahagia tatkala bisa mendapatkan sekolah favorit? Menjadi bintang kelas? ataukah bahagia tatkala si anak tidak kekurangan apapun? hingga lupa untuk mengenalkan Islam, memberikan pendidikan tentang akhlak yang baik.
Siapakah diantara kita yang ingin terhalangi dari api neraka?
Siapakah diantara kita yang tidak ingin dikumpulkan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga?
Semua itu bisa diraih dengan kesabaran dalam mendidik putri-putri kita (anak-anak kita). Kebahagiaan yang sebenarnya adalah buah dari keimanan kepada Allah, berupa ketenangan hati: bersabar ketika mendapat musibah dan bersyukur tatkala mendapatkan nikmat. Didiklah anak-anak kita seperti yang telah dicontohkan oleh Lukman. Bukan sekedar harta, perhiasan dan dunia melainkan sesuatu yang lebih berharga dari apapun.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman melalui lisan Lukman:
“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu
ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku janganlah kamu
mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah
benar-benar kezhaliman yang besar.’ Dan kami perintahkan kepada manusia
(berbuat baik) kepada dua orangtua ibu bapaknya, ibunya telah
mengandungnya dalam keadaan yang lemah yang bertambah dan menyapihnya
dalam dua tahun, bersyukurlah kepadaKu dan kepada ibu bapakmu, hanya
kepadaKulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk
mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang
itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya
didunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu,
kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu, maka kuberitahukan kepadamu apa
yang telah kamu kerjakan. (Lukman berkata), ‘Hai anakku sesungguhnya
jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau
dilangit atau didalam bumi niscaya Allah akan mendatangkannya
(membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai
anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik
dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah
terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk
hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan
mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjaln dimuka
bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan
dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara
keledai.'” (QS. Luqman: 13-19)
Jangan sampai kita menyesal suatu hari nanti. Tidak sedikit kita sebagai orangtua menyalahkan si anak, ketika sang anak tumbuh menjadi pembangkang, membantah bahkan durhaka kepada orangtua. Kita beralasan karena si anak salah gaul, tidak bermoral, atau alasan yang lainnya. Bukan...bukan karena salah gaul, tidak bermoral, tetapi kita sebagai orangtuanya tak pernah mengajarkan akhlak yang baik.
Sudahkah kita membina anak dengan baik sejak kecil? sudahkah anak tau bagaimana cara berbakti kepada orangtua? sudahkah anak tau bagaimana beretika yang baik dari bangun tidur hingga tidur kembali? sudahkah anak kita dibimbing untuk memilih lingkungan yang baik? Jika belum, salahkan diri kita sebagai orang tua dan pantas saja jika kita menuai buah yang telah kita tanam sendiri.
Seperti
perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah,
"Hendaknya anak dijauhkan dari berlebihan dalam makanan,
berbicara, tidur dan berbaur dengan perbuatan dosa, sebab kerugian akan
didapat dari hal-hal itu dan menjadi penyebab hilangnya kebaikan dunia
dan akhirat. Anak harus dijauhkan dari bahaya syahwat perut dan
kemaluan sebab jika anak sudah dipengaruhi oleh kotoran syahwat maka
akan rusak dan hancur. Berapa anak tercinta menjadi rusak akibat
keteledoran dalam pendidikan dan pembinaan bahkan orangtua membantu
mereka terjerat dalam syahwat dengan anggapan hal itu sebagai ungkapan
perhatian dan rasa kasih sayang kepada anak padahal sejatinya telah
menghinakan dan membinasakan anak sehingga orangtua tidak mengambil
manfaat daria anak dan tidak meraih keuntungan dari anak baik didunia
maupun diakhirat. Apabila engkau perhatikan dengan seksama maka
kebanyakan anak rusak berpangkal dari orangtua.”
Ya mungkin saat anak masih kecil belum terasa dampak dari pentingnya akhlak bagi orangtua. Namun saat dewasa kelak maka akan terasa dampaknya bagi kita sebagai orangtua. Sekali lagi, AKHLAK YANG BAIK adalah harta yang lebih berharga dari sekedar harta dunia yang melimpah.
Tanamkan akhlak dari hal yang paling sederhana, misalnya:
1. Dengan memberi contoh mengucapkan salam.
Dari Abu Hurairah
radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullah
shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman dan kalian
tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Dan maukah kalian aku
tunjukkan kepada sesuatu jika kalian mengerjakannya maka kalian akan
saling mencintai? Tebarkan salam diantara kalian.” (HR. Muslim)
2. Memperhatikan etika dalam makan.
Dari umar bin Abu Salamah
radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah
shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepadaku,
“Sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu serta makanlah dari makanan yang paling dekat denganmu.” (Muttafaqun ‘alaih)
3. Mengajarkan rasa kebersamaan dengan saudara muslim yang lain, misalnya dengan menjenguk orang sakit.
Dari Abu Hurairoh
radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullah
shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima; menjawab
salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, menghadiri undangan
dan mendoakan orang yang bersin.” (Muttafaqun ‘alaihi)
4. Mengajarkan kejujuran.
Dari Ibnu Mas’ud
radhiyallahu’anhu bahwa Nabi
shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
“Peganglah kejujuran karena sesungguhnya kejujuran menunjukkan
kepada kebaikan dan kebaikan menunjukan kepada surga. Seseorang selalu
jujur dan memelihara kejujuran hingga tercatat di sisi Allah termasuk
orang yang jujur. Dan hindarilah dusta karena kedustaan menunjukkan
kepada kejahatan dan kejahatan menunjukkan kepada neraka. Seseorang
selalu berdusta dan terbiasa berbuat dusta hingga tertulis di sisi
Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari Muslim)
Akhlak yang baik dari seorang anak akan melahirkan generasi yang baik, generasi yang taat kepada Allah, memuliakan orangtua, dan memperhatikan hak sesama muslim.
Wallohu a’lam bishowab.
 |
| My two daughters @pantai pathek Situbondo |
|
|
 |
| My Family's Hands |
|
Klaten
Malam yang sunyi
27 Juli 2018